Pengawalan untuk Orang Miskin

Senin, November 09, 2009


Naik L300 dari Baranta menuju Sampang, tanggal 7 kemarin Nopember, pada kisaran jam 9:45-an, aku berpapasan dengan segerombolan orang gede ber-moge: ples! Cocok! Mereka datang berkonvoi, dikawal, dan masuk ke arela parkir Pantai Camplong. Pak polisi mengatur lalu-lintas. Mereka juga datang dengan kendaran mewah. Sempat kulihat ada BMW sport berwarna merah beratap kanvas, juga Alphard, serta entah apalagi.

Setelah kurang lebih 10 menitan terjebak macet karena mereka, mobil yang kutumpangi pun akhirnya bergerak lagi. Di dalam kabin mobil yang panas, Zulkarnaen, si pengemudi dari Bandaran ini berkomentar. “Saya tidak kagum melihat rombongan Harley ini. Mengapa tidak ada pengawalan untuk orang miskin?” Katanya sedikit masam. Dia bicara sendiri dengan tatapan lurus ke depan. Aku tidak  berkomentar, karena yakin ada kelanjutan dari komenetar Si Zulkarnaen ini.

Terbukti: “Yang saya herankan, mengapa penumpangku begitu sepi hari ini..” lanjutnya seraya tersenyum. Berbarengan dengan itu, segera kusodorkan uang 5000-an untuk ongkos. Kernet menerimanya tanpa ekspresi. Aku maklum. Karena setelah kutengok ke belakang, hanya ada satu penumpang di sana, seorang pedagang krupuk. Kami berempat seolah-olah seang mencarter mobil dari “Mitsubishi Rent a Car”.

Masih terngiang, “Mengapa tidak ada pengawalan untuk orang miskin?”

Dan aku turun dari mobil itu untuk mencegat mobil berikutnya yang akan mengantarku ke arah Bangkalan.

 






Juru Parkir Antik

Sabtu, Oktober 31, 2009


Seperti biasa, setiap mau pergi dari area parkir, aku selalu meminta karcis sebagai bukti. Cara ini, meskipun terkadang makan hati, kuanggap sebagai langkah yang bijak sebagai bahan pembelajaran “anti-kompromi terhadap segala macam pungli”. Sebab, dengan membiarkan parkir tanpa tanda bukti, itu berarti kita setuju/membiarkan praktik pungli (pungutan liar) terjadi. Bukankah pungli merupakan salah satu nenek-moyang korupsi, kawan?

Tadi pagi, setelah hendak pergi dari tempat parkir, jukir (juru parkir) itu mendekatiku. Kusodorkan uang 1000 rupiah karena kutahu tarip parkir di tempat itu masih Rp500,- saja. Setelah selembar uang seribuan itu berpindah tangan, orang itu menjauh.

“Ah,” keluhku. “Sudah tidak ada karcis, narip-nya 1000 rupiah lagi!” Aku membatin sambil membayangkan, berapa banyak orang yang mengalami kejadian seperti ini dan menghadapinya denmgan cuek saja.

“Pak, karcisnya mana?” Kataku agak lantang.

“Oh, ini!” Kata si bapak jukir tersenyum seraya menyodorkan karcis dengan tarip 500 perak untuk sekali parkir.

“Kok tidak ada kembaliannya, ya? Seharusnya kan cuma 500 rupiah?”

Setelah kuamati, ternyata karcis parkir itu ada dua lembar. Bapak tersebut mungkin turunan Abu Nawas, demikian kesimpulanku. Dia ogah untuk membayar sisa uang kembalian 500 rupiah padaku, tetapi justru memberiku 2 karcis sekaligus sehingga bertarip 1000 rupiah.

Maunya marah, akhirnya aku jadi tersenyum, meskipun agak masam.






Shohibu-kormeddaL

Foto Saya
M. Faizi

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll
Lihat profil lengkapku

Lencana Facebook

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Komentar Mutakhir

Pengikut